Your.Specials.Here

Your content here...
Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. more...

APAKAH YANG ADA DI DALAM PENGUNGKAPAN PELAPORAN?

Minggu, 03 April 2011



Untuk memenuhi kebutuhan para pemakai informasi, suatu perusahaan selalu mengeluarkan laporan yang berisi tentang kondisi yang terjadi selama periode tertentu. Pelaporan tersebut bisa berbentuk laporan mengenai kondisi keuangan maupun kondisi lingkungan di sekitar perusahaan tersebut. Untuk pengungkapan kondisi perusahaan dipastikan agar bisa memperlihatkan realitas yang sebenarnya mengenai apa yang terjadi.


Dalam hal kerangka untuk pengungkapan kondisi suatu perusahaan, dipastikan bahwa laporan tersebut harus memenuhi beberapa kriteria berikut ini (Choi dan Meek, 2010:211) :

A. Pengungkapan harus mencakup, tetapi tidak terbatas pada materi informasi :

1. Hasil keuangan dan usaha perusahaan.

2. Sasaran perusahaan.

3. Kepemilikan saham mayoritas dan hak voting.

4. Kebijakan pembayaran gaji bagi anggota direksi dan eksekutif utama dan informasi mengenai anggota direksi, termasuk kelayakan mereka, proses pemilihan, kepemimpinan di perusahaan lainnya, dan apakah mereka dianggap independen oleh direksi.

5. Transaksi dengan pihak terkait.

6. Faktor risiko terduga.

7. Isu-isu menyangkut pegawai dan pemegang saham lainnya.

8. Struktur dan kebijakan pemerintah, khususnya, isi dari hukum kebijakan perusahaan dan proses dimana hal ini diterapkan.

B. Informasi harus disiapkan dan diungkap sesuai dengan standar kualitas tinggi akuntansi dan keuangan dan pengungkapan non-finansial.

C. Audit tahunan harus dilaksanakan oleh pihak independen, kompeten, dan auditor bermutu dalam rangka untuk memberikan sebuah sasaran eksternal dan asuransi untuk direksi dan pemegang saham dimana laporan keuangan memperlihatkan kedudukan dan performa keuangan dengan wajar dari perusahaan dalam semua aspek.


Rangkaian kerangka pelaporan di atas dimaksudkan selain untuk memberikan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan, diharapkan agar bisa menjaga transparansi perusahaan karena di dalam kerangka tersebut terdapat kewajiban untuk melakukan audit secara berkala. Independensi juga bisa dipertahankan agar tujuan bersama suatu perusahaan yang tertuang dalam notulen RUPS bisa dijalankan sebagaimana mestinya tanpa ada campur tangan dari pihak-pihak yang hanya mementingkan egoismenya semata.


Gaya manajemen pun bisa mempengaruhi bagaimana isi pengungkapan pelaporan suatu perusahaan. Suatu contoh yang terjadi pada General Electric (GE), pada awal dasawarsa 1970-an GE dipimpin oleh Reginald Jones pada posisi sebagai CEO. Jones adalah seseorang yang formal, bermartabat, serta memiliki tekad dan kemampuan yang kuat untuk mendelegasikan wewenang. Hasilnya yaitu di dalam pengungkapan GE terdapat suatu unit perencanaan strategi formal yang berbeda dari pengungkapan GE sebelumnya. Ketika Jones mengundurkan diri pada tahun 1980, dipilihlah Jack Welch untuk menggantikannya. Welch adalah seseorang yang lantang, tidak sabaran, bersifat informal, dan memiliki jiwa wiraswasta sehingga beberapa tindakan yang terbilang ekstrem telah ia lakukan seperti melakukan akuisisi besar-besaran dan peralihan dari usaha manufaktur ke bidang jasa. Walaupun terbilang ekstrem, tetapi bisa menempatkan GE ke dalam jalur pertumbuhan yang sangat solid. Saat itu, tingkat penjualan GE meningkat empat kali lipat dari $27 miliar pada tahun 1981 menjadi $101 miliar pada tahun 1998.


Dari pengungkapan tersebut bisa dipakai oleh beberapa kalangan seperti misal para akademisi untuk melakukan riset agar bisa memberikan masukan kepada perusahaan tersebut dan sebagai bahan acuan bagi perusahaan lain yang sedang mengembangkan usahanya.


Key : Masalah keputusan manajemen dan pengungkapan keputusan


Bahan Bacaan :

1. Anthony, Robert N. dan Vijay Govindarajan. Management Control System. Buku 1 Edisi 11. 2005: Salemba Empat.

2. Choi, Frederick D.S. dan Gary K. Meek. International Accounting. Buku 1 Edisi 6. 2010: Salemba Empat.

DIFERENSIASI PRAGMATIS MANAJEMEN KEUANGAN SUATU NEGARA

Selasa, 22 Maret 2011



Perkembangan ekonomi yang sangat pesat di China saat ini telah membuat beberapa negara tercengang dan sangat mengagumi. Hal itu membuat semua negara bertanya, bagaimana bisa negara China bisa mencetak angka yang sangat menakjubkan sehingga angka pertumbuhan ekonominya bisa berada dalam level dua digit. Negara tersebut juga sukses memakmurkan rakyatnya melalui program-program pemerintah yang bisa dikatakan sebagian besar telah memeratakan kesejahteraan rakyat walaupun masih ada sedikit dari wilayahnya yang belum terjamah euphoria ekonominya.


Bila dilihat dari sistem ekonomi yang dianut China, negara tersebut menganut sistem komunis yang merupakan salah satu dari lima zona akuntansi yang berpengaruh di dunia. Dasar dari sistem komunis yaitu pemerataan kesejahteraan bagi semua rakyatnya. Tetapi belum semua rakyat China bisa merasakan manisnya pembangunan di negara tersebut. Lain lagi dengan negara Amerika Serikat. Negara yang selalu meneriakkan slogan demokrasi dan ekonomi liberal atau kapitalisme tersebut tidak selalu menerapkan prinsip kapitalismenya secara membabi buta. Dalam hukum federal, sektor-sektor yang mempengaruhi kehidupan rakyat banyak harus dikuasai oleh negara, tidak boleh diambil oleh swasta. Meskipun ada, porsi yang diberikan oleh swasta hanya sedikit bila dibandingkan oleh porsi yang dimiliki oleh negara. Dan dalam beberapa hukum negara bagiannya, bagi warga yang belum mendapatkan pekerjaan akan diberikan jaminan sosial berupa tunjangan sampai warga tersebut mendapatkan pekerjaan.


Dalam bidang ekonomi syariah, negara Indonesia dan Malaysia sedang berlomba-lomba untuk menjadikan bidang tersebut menjadi salah satu pilar pembangunan negaranya. Dalam hal perkembangan sektor syariah, Indonesia masih kalah dari Malaysia. Tetapi berdasarkan penelitian dari Ascarya dan Diana Yumanita berjudul Comparing The Efficiency of Islamic Banks in Malaysia and Indonesia yang dimuat dalam Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan Bank Indonesia, dari ukuran teknis, skala, dan efisiensi secara keseluruhan, dunia syariah di Indonesia lebih efisien daripada Malaysia.


Berdasarkan berbagai perbandingan di atas, suatu negara pastilah memiliki ciri yang spesifik mengenai kegiatan ekonominya. Sistem dan tata kelola keuangan perusahaan yang dimiliki dan menjadi pakem suatu negara bisa mempengaruhi sistem makroekonomi negara tersebut. Sentuhan langsung kepada sistem tata kelola tersebut salah satunya berupa intervensi pihak eksekutif dalam regulasi bidang ekonomi yang dituangkan ke dalam kodifikasi hukum.


Bahan Bacaan :


1. Ascarya dan Diana Yumanita. Comparing The Efficiency of Islamic Banks in Malaysia and Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter Perbankan Vol. 11 No. 2. 2008: Bank Indonesia

2. Choi, Frederick D.S. dan Gary K. Meek. International Accounting. Buku 1 Edisi 6. 2010: Salemba Empat


Key : Pengaruh perbedaan tata kelola keuangan perusahaan di suatu negara

PENGUNGKAPAN DUA VERSI LAPORAN KEUANGAN

Rabu, 16 Maret 2011

Beberapa entitas berlevel multinasional atau Multinational Company (MNC) telah menerbitkan Laporan Keuangan yang dipublikasikan kepada pihak-pihak yang dirasa perlu untuk diberikan, semisal para investor, komisaris, pihak fiskus, ataupun kepada para calon investor yang masih mencari-cari tempat untuk menanamkan investasinya. LK yang diterbitkan pastilah harus disesuaikan dengan standar yang berlaku di mana entitas tersebut beroperasi. Komite American Accounting Association (AAA) menyatakan bahwa praktek akuntansi yang bisa dijadikan acuan standar akuntansi di seluruh wilayah di dunia dapat dikelompokkan menurut jangkauan pengaruhnya. Komite ini mengindikasikan bahwa terdapat lima zona pengaruh, yaitu :

1. Inggris

2. Prancis-Spanyol-Portugis

3. Jerman-Belanda

4. Amerika Serikat

5. Komunis


Sesuai dengan karakteristik pelaporan, suatu LK haruslah dapat diandalkan karena merupakan suatu representasi dari operasional entitas. Konsistensi dalam hal penyajian LK pun wajib diperhatikan mengingat tujuan dari operasional entitas yang tertuang dalam LK dapat dipakai oleh berbagai pihak dan berbagai tujuan.


Dalam hal konsistensi penyajian LK, timbullah suatu permasalahan yang menyangkut sebuah MNC. Misalkan Nestle yang merupakan entitas yang berasal dan berpusat di Swiss tetapi mempunyai cabang yang beroperasi di Amerika Serikat, standar apakah yang harus diterapkan untuk menyajikan LK yang sesuai. Swiss merupakan suatu negara di benua Eropa yang sejak Januari 2005 diharuskan untuk menerapkan standar pelaporan keuangan International Financial Reporting Standards (IFRS) oleh International Accounting Standard Boards (IASB). Tetapi bila dilihat dari domisili cabang operasional Nestle yang berada di Amerika Serikat, maka entitas tersebut diharuskan untuk membuat LK yang menggunakan standar pelaporan keuangan General Accounting Accepted Principle (GAAP) oleh Financial Accounting Standard Boards (FASB). Hal serupa juga bisa terjadi pada beberapa MNC seperti Cevron, Samsung, General Motors, dan Yamaha.


Pihak manajemen dari entitas pastilah mengharapkan gerbong kereta yang dibawanya mendapatkan keuntungan yang besar demi kelangsungan hidup usahanya. Manajemen yang diwakili oleh Chief Executive Officer (CEO) tidaklah mau berputar-putar dalam kondisi ketidakkonsistenan dalam hal pelaporan keuangan. CEO mengharapkan LK dapat fleksibel dan tidak memakan biaya yang sangat banyak sehingga terkesan bahwa 40% dari biaya total suatu entitas dihabiskan untuk operasional sedangkan sisanya sebesar 60% dihabiskan untuk membuang biaya berupa waktu dan energi untuk membuat LK yang sesuai dan bisa dipakai baik untuk negara dimana pusat entitas tersebut berada dan negara tempat cabang operasional itu berada – dalam hal entitas tersebut adalah MNC.


Menurut Schroeder, sebuah perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan kepada pengguna di luar negeri bisa memakai satu dari beberapa pendekatan untuk menyusun laporan keuangannya :

1. Mengirimkan laporan keuangan yang sama kepada semua pemakai laporan keuangan (baik domestik maupun luar negari).

2. Menerjemahkan bahasa yang digunakan dalam laporan keuangan yang dikirimkan ke pemakai luar negeri, dalam bahasa yang digunakan di negara pemakai tersebut.

3. Melakukan translasi atas laporan keuangan yang dikirimkan ke pihak pemakai luar negeri, sesuai dengan mata uang yang digunakan di negara pemakai laporan tersebut.

4. Mempersiapkan 2 laporan keuangan, yang satu memakai bahasa, mata uang, dan prinsip akuntansi negara asal perusahaan, dan yang satu lagi memakai bahasa, mata uang, dan prinsip akuntansi yang sesuai dengan yang digunakan di negara tempat pemakai laporan keuangan berada.

5. Mempersiapkan laporan keuangan berbasis pada prinsip-prinsip akuntansi yang disetujui kalangan luas di dunia.


Berdasarkan beberapa pendekatan tersebut di atas, alternatif yang ke-5 sangatlah tepat jika bisa diimplementasikan sehingga terdapat persamaan persepsi dalam penyajian LK demi efektif dan efisiennya suatu LK.


Bahan Bacaan : Choi, Frederick D.S. dan Gary K.Meek. Akuntansi Internasional. Buku 1 Edisi 5. 2005: Salemba Empat


Key : Praktek pengungkapan akuntansi internasional

PERKEMBANGAN DUNIA AKUNTANSI MELALUI IFRS

Minggu, 27 Februari 2011


Di awal tahun 2010, beberapa perusahaan yang ada di Indonesia telah bersiap-siap untuk menerapkan sistem pelaporan terbaru yang sudah beberapa tahun diterapkan di Uni Eropa. Memang dunia akuntansi Indonesia saat ini selalu berkiblat ke arah Amerika Serikat sehingga pedoman akuntansi di sana yang disebut GAAP (General Accepted Accounting Principles) diterapkan di Indonesia dengan beberapa adaptasi sesuai dengan lingkungan yang ada di Indonesia. Sistem akuntansi terbaru yang akan diterapkan di Indonesia tersebut dikenal dengan nama IFRS (International Financial Reporting Standards).


Banyak penelitian mengenai penerapan IFRS di suatu negara sebelum negara tersebut mengaplikasikannya secara menyeluruh. Hal tersebut dirasa penting mengingat posisi akuntansi di suatu perusahaan yang berfungsi sebagai jendela untuk mengetahui apakah perusahaan tersebut mempunyai kondisi yang sehat atau tidak. Meskipun IFRS telah mengambil perhatian banyak negara karena model di dalamnya yang sesuai dengan kondisi ekonomi dunia saat ini, tetapi bukanlah berarti IFRS bisa diterapkan di suatu negara secara keseluruhan. Banyak faktor yang bisa merubah jalur IFRS sehingga tidak bisa diadopsi suatu negara dengan baik.


Penulis mendapatkan suatu jurnal yang telah meneliti penerapan IFRS di Uni Eropa yang telah mendapatkan beberapa faktor yang bisa mempengaruhi penerapan IFRS di suatu negara.


IFRS Adoption and Accounting Quality: A Review


Naomi S. Soderstrom

Associate Professor

University of Colorado at Boulder

Naomi.soderstrom@colorado.edu


Kevin Jialin Sun

Assistant Professor

University of Hawaii at Manoa

sunj@hawaii.edu


IFRS Adoption and Accounting Quality: A Review


Abstract


In 2002, the European Union (EU) Parliament passed a regulation that requires consolidated and simple accounts for all companies listed in the EU to use International Financial Reporting Standards (IFRS) for fiscal years starting after January 1, 2005. This change in accounting systems will have a large impact on the information environment for EU companies. This paper provides a review of the literature on adoption of different GAAPs. We thus provide background and guidance for researchers studying the change in accounting quality following widespread IFRS adoption in the EU. We argue that cross-country differences in accounting quality are likely to remain following IFRS adoption because accounting quality is a function of the firm’s overall institutional setting, including the legal and political system of the country in which the firm resides.


Berdasarkan jurnal yang telah dibuat oleh Naomi S. Soderstrom dari University of Colorado dan Kevin Jialin Sun dari University of Hawaii, didapatkan tiga faktor yang bisa mempengaruhi secara langsung kualitas pelaporan akuntansi di dalam model IFRS, yaitu (1) the quality of the standard’s (kualitas dari suatu standar), (2) a country’s legal and political system (sistem politik dan hukum suatu negara), dan (3) financial reporting incentives (pendanaan untuk pelaporan keuangan).


Perkembangan dunia finansial di suatu negara secara tidak langsung dipengaruhi oleh kondisi politk suatu negara, apakah aman atau tidak. Berdasarkan penelitian oleh Naomi S. Soderstrom dan Kevin Jialin Sun tersebut, empat faktor pendanaan untuk pelaporan keuangan yaitu (1) financial market development (perkembangan pasar finansial), (2) capital structure (struktur pasar), (3) ownership structure (struktur kepemilikan), dan (4) tax system (system pajak) dapat dipengaruhi oleh kebijakan politik dan sistem hukum yang diterapkan oleh pemerintahan suatu negara.


Sumber : www.ssrn.com


Akuntansi International


Key : Faktor yang mempengaruhi perkembangan dunia akuntansi